10 Fakta Gunung Everest Yang Ternyata Bukan Gunung Tertinggi Di Dunia

Fakta Gunung Everest

Gunung Everest via wikipedia.org

Banyak para pendaki bermimpi dan mencoba menaklukan gunung Everest setelah Edmund Hillary dan Tenzing Norgay berhasil membuat sejarah baru dengan menaklukan gunung tertinggi di dunia ini pada tahun 1953 silam. Tapi tidak sedikit juga yang gagal mewujudkan mimpi menaklukan gunung tersebut yang berujung kematian.

Bagaimana tidak, selain ketinggiannya yang mencapai 8.848 MDPL, gunung ini juga dihuni oleh salah satu spesies laba-laba paling beracun yang siap mengintaimu. Laba-laba ini sering ditemukan disekitar gunung Everest di ketinggian 6.700 meter.

Faktanya, banyak pendaki mengabaikan bahaya tersebut demi mewujudkan mimpi mereka menaklukan gunung tertinggi di dunia, Everest. Dan masih banyak fakta mengejutkan lainnya yang jarang diketahui oleh orang awam. Apa saja faktanya, berikut ulasannya

1. Bukan Gunung Tertinggi Di Dunia

Walaupun banyak orang menyebut Gunung Everest adalah gunung tertinggi di dunia, tapi kenyataannya ada gunung yang lebih tinggi dari gunung Everest yaitu Gunung Mauna Kea yang berada di Hawaii.

Gunung Mauna Kea adalah gunung api tidak aktif yang bila diukur dari dasar laut mencapai kurang lebih 10.200 meter. Itu berarti sekitar satu mil lebih tinggi jika dibandingkan dengan Gunung Everest atau gunung Himalaya.

Memang puncak gunung Everest adalah yang tertinggi bila diukur dari permukaan laut yaitu 8.848 meter sedangkan Gunung Mauna Kea hanya 4.205 meter, tapi gunung ini meluas sepanjang kurang lebih 6.000 meter hingga dasar laut yang apabila diukur dari dasar laut tinggi gunung ini mencapai hingga 10.200 meter.

2. Wajib Bawa Sampah Saat Turun Gunung

Aturan ini mungkin kurang lebih sama dengan gunung yang ada di Indonesia, tapi tingkat kekotoran di Gunung Everest sudah masuk tahap yang mengkhawatirkan. Fakta lainnya dipuncak gunung tidak hanya banyak sampah tapi banyak juga mayat manusia yang meninggal disana. Bahkan ada beberapa orang menyebutnya sebagai kuburan tertinggi di dunia.

Diperkirakan sebanyak 50 ton sampah di setiap musim pendakian. Sejak tahun 2008, The Eco Everest Expedition sudah mencoba mengatasi masalah ini dan sejauh ini hasilnya 13 ton sampah berhasil mereka angkut.

Bahkan pemerintah Nepal pun mengeluarkan kebijakan baru untuk pendaki yaitu selain membawa sampah sendiri mereka wajib mambawa sampah lain minimal 8 kg saat turun gunung untuk menjaga kebersihan Gunung Everest. Pemerintah Nepal juga akan memberi sangsi bagi pendaki yang kedapatan melanggar aturan ini.

3. Naik Gunung Harus Mengantri Dulu

Fakta Gunung Everest

Para pendaki mengantri menuju puncak Everest via kumpulan-berita-unik.blogspot.com

Dengan popularitasnya sebagai gunung tertinggi di dunia, Everest sudah jadi magnet untuk para pendaki diseluruh di dunia. Karena hal itulah di berbagai rute pendakian akan terlihat kemacetan manusia yang bertujuan mencoba menantang keganasan gunung tersebut.

Misalnya pada 2012 lalu, pendaki asal Jerman yaitu Ralf Dujmovits berhasil mengambil gambar mengejutkan yang memperlihatkan ratusan pendaki yang mengantri untuk bisa mencapai puncak. Pada saat itu pendaki dikabarkan berkerumun di salah satu tempat di seikitar kawasan pendakian tersebut dan menunggu kurang lebih 2 jam untuk menunggu giliran mendaki gunung tersebut.

Tapi dalam perjalanannya 234 pendaki berhasil mencapai puncak gunungnya, tapi 4 pendaki lainnya tewas sebelum mencapai puncak. Hal ini tentunya menjadi masalah besar, akhirnya pengelola gunung menambahkan tali yang bisa digunakan pegangan untuk para pendaki.

4. Hilamaya Memiliki Banyak Nama

Walaupun semua orang mengetahui gunung ini bernama Gunung Everest atau Himalaya, tapi sebagian warga pribumi di Tibet justru menyebut Gunung Everest dengan nama Chomolungma (dibaca : Qomolangma) yang berarti Dewi Pegunungan.

Di Nepal gunung ini disebut Sagarmatha yang artinya kening langit. Karena nama itulah kini Gunung Everest menjadi bagian dari Taman Nasional Sagarmatha, Nepal. Bahkan sebagian orang yang pernah mendaki gunung ini tahu nama tersebut.

Gunung ini bernama Himalaya, ketika surveyor asal Inggris, Andrew Waugh gagal menemukan nama lain yang bisa digunakan oleh penduduk pribumi. Dan juga untuk mempermudah penyebutan nama bagi orang yang bukan warga pribumi. Sedangkan nama Everest diambil dari nama Inspektur Jendral India yaitu George Everest yang pernah melakukan survey di Gunung Himalaya ini.

5. Percaya Atau Tidak, Gunung Everest Setiap Tahunnya Tingginya Bertambah

Dua negara yang melakukan pengukuran ulang untuk membuktikan berapa tinggi Gunung Everest yang sebenarnya dianggap oleh para ahli adalah pekerjaan yang sia-sia. Karena, setelah diteliti, puncak gunung tersebut selalu tumbuh kurang lebih 4 milimeter tiap tahunnya.

Hal ini disebabkan karena pada awalnya daratan India merupakan daratan independen kemudian bertabrakan dengan benua asia, sehingga membentuk Gunung Everest seperti saat ini. Tapi ada satu hal yang luput dari pengamatan para ahli yaitu lempeng benua asia yang bertabrakan tersebut ternyata masih bergerak mendorong gunung tersebut lebih tinggi.

Hal ini juga terbukti juga dari hasil penelitian Ekspedisi Millenium Amerika pada tahun 1999. Mereka menempatkan sebuah perangkat satelit dibahwa gunung tersebut untuk mengukut pertumbuhan gunung Everest. Hasilnya, ternyata ketinggian gunung Everest dipastikan selalu berubah tiap tahunnya.

Dari 8.848 menjadi 8.850 meter, dan bukan hanya ketinggian puncak saja yang terus tumbuh lebih tinggi, tapi pergerakan aktifitas keseluruhan gunung tersebut juga semakin berkembang.

Baca juga: 10 Gunung Tertinggi Di Benua Afrika

6. Hewan Penghuni Abadi Gunung Everest

Saat berada diatas ketinggian dengan tekanan udara cukup rendah dan sangat sulit sekali bernafas, kamu pun tidak luput dari pantauan salah satu hewan berbahaya ini. Euophrys omnisuperstes atau yang lebih dikenal dengan laba-laba Himalaya yang biasanya bersembunyi di celah lereng gunung.

Hewan ini disebut sebagai hewan penghuni abadi gunung Everest, karena hewan ini merupakan satu-satu hewan yang sering ditemukan oleh pendaki di ketinggian sekitar 6.700 meter. Laba-laba ini merupakan spesies yang masuk dalam keluarga Salticidae. Spesies ini juga adalah bagian dari Genus Euophrys dan ordo Araneae yang banyak ditemukan dikawasan Nepal.

Perlu di ingat untuk para pendaki hewan ini adalah salah satu laba-laba beracun yang mematikan di dunia. Umumnya mereka mengecoh dengan bersembunyi di celah batu-batu lereng gunung.

7. Semakin Tinggi, Oksigen Semakin Menurun

Selain laba-laba beracun yang bisa menghentikan pendakianmu adalah kekurang oksigen. Ya, Kadar oksigen di sekitar basecamp akan turun hingga menjadi 85-87% sedangkan kalau sudah mendekati puncak harus bernafas hingga 80-90 kali tiap menitnya.

Hal ini disebabkan oleh kadar oksigen yang menurun dan tersisa kurang lebih 35%. Makanya banyak pendaki yang membawa tabung oksigen untuk dirinya sendiri.

8. Dulunya Adalah Pantai

Seperti yang sudah diketahui, daratan india, Nepal dan disekitarnya, dahulunya bukan masuk dataran Asia dan Gunung Everest merupakan tepi pantai. Tapi jutaan tahun kemudian, daratan tersebut bergeser ke arah utara dan bertabrakan dengan benua Asia yang pada akhirnya membentuk pegunungan Himalaya yang kita kenal sampai sekarang.

9. Turun Gunung Lebih Berbahaya Dibanding Mendakinya

Sampai sekarang, belum ada data pasti berapa pendaki yang sudah jadi korban gunung ini. Namun hal tersebut bisa dihitung berapa jumlah pendaki yang tidak kembali ke bawah. Karena rute turun dari puncak lebih berbahaya dibanding rute pendakian, mulai dari cuaca, kelelahan, pembekuan tubuh dan lainnya.

10. Umur Everest Bukan 60 Juta

Banyak peneliti yang menyebutkan bahwa Pegunungan Himalaya sudah ada sejak 60 juga tahun yang lalu. Tapi faktanya gunung tersebut sudah ada ratusan tahun lamanya, hal ini bisa dibuktikan dengan adanya batuan kapur dan batuan sidemen yang ada dipuncak gunung tersebut yang diperkirakan sudah berusia 450 juta tahun yang lalu.

Formasi batuan digunung tersebut mengandung fosil dari mahkluk laut yang pertama kali ditemukan oleh seorang petualang bernama Noel Odell pada tahun 1924. Hal ini semakin menguatkan bahwa puncak gunung dulunya adalah dasar laut.

Baca juga: 4 Kisah Misteri Gunung Gede Pangrango Yang Dialami Para Pendaki

Loading...

Add Comment